Panen 40 Kilogram Timun, Rutan Pelaihari Perkuat Pembinaan Kemandirian Warga Binaan

PELAIHARI, INFO_PAS — Sebanyak 40 kilogram timun dipanen dari Kebun Sarana Asimilasi dan Edukasi (SAE) Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kelas IIB Pelaihari, Selasa (22/9/2026), menjadi salah satu hasil nyata pemanfaatan lahan untuk mendukung kegiatan pembinaan kemandirian warga binaan.

 

Panen dilakukan oleh Petugas Pembinaan Pertanian Rutan Pelaihari M. Ridho bersama warga binaan Amin. Kegiatan tersebut tidak sekadar menghasilkan komoditas pertanian, tetapi juga menjadi bagian dari proses pembelajaran bagi warga binaan untuk mengenal aktivitas pertanian secara langsung.

 

Dari kebun SAE, tanaman yang sebelumnya dirawat dan dipelihara secara bertahap akhirnya memasuki masa panen. Timun yang telah siap dipetik dikumpulkan hingga menghasilkan sekitar 40 kilogram dalam satu kegiatan panen.

 

Bagi warga binaan yang terlibat, proses tersebut memberikan pengalaman bahwa hasil pertanian membutuhkan ketekunan dan tanggung jawab. Mulai dari berada di kebun, memperhatikan kondisi tanaman, hingga melakukan panen, setiap tahapan menjadi bagian dari pembinaan yang dapat memberikan keterampilan praktis.

 

Petugas Pembinaan Pertanian Rutan Pelaihari M. Ridho mengatakan kegiatan pertanian diarahkan agar warga binaan tidak hanya mengikuti aktivitas rutin, tetapi juga memperoleh pengalaman dalam mengelola tanaman hingga menghasilkan.

 

“Panen ini merupakan hasil dari proses yang dilakukan bersama. Warga binaan dapat melihat secara langsung bagaimana tanaman yang dirawat dengan tekun akhirnya menghasilkan. Dari kegiatan ini, kami juga ingin membangun kebiasaan bekerja dengan teliti, sabar, dan bertanggung jawab,” ujar Ridho.

 

Sementara itu, Amin mengaku senang dapat terlibat langsung dalam kegiatan hingga tahap panen. Menurutnya, melihat hasil tanaman yang telah dirawat memberikan kepuasan tersendiri sekaligus pengalaman yang dapat menjadi bekal keterampilan.

 

“Yang paling terasa adalah ketika melihat tanaman yang dirawat akhirnya bisa dipanen. Kami belajar untuk sabar dan bertanggung jawab karena hasilnya tidak langsung didapat,” kata Amin.

 

Kegiatan tersebut sejalan dengan perhatian Kepala Rutan Pelaihari Eri Triyanto terhadap pengembangan pembinaan kemandirian melalui pemanfaatan lahan produktif. Kebun SAE menjadi salah satu ruang bagi warga binaan untuk mendapatkan pengalaman melalui kegiatan pertanian yang dilakukan secara langsung.

 

Arah tersebut juga selaras dengan penguatan tugas dan fungsi pemasyarakatan yang menempatkan kemandirian pangan melalui program pertanian, perikanan, dan peternakan di Lapas dan Rutan dengan memanfaatkan lahan-lahan tidur (idle) sebagai salah satu program yang perlu dikembangkan. Materi tersebut juga menekankan bahwa program pertanian di setiap UPT disesuaikan dengan kondisi masing-masing.

 

Dalam konteks tersebut, panen 40 kilogram timun di Rutan Pelaihari bukan semata-mata tentang jumlah hasil yang terkumpul. Ada proses pembinaan yang berlangsung di baliknya. Lahan dimanfaatkan, warga binaan dilibatkan, keterampilan dipraktikkan, dan hasil pertanian menjadi bagian dari proses produktif di lingkungan Rutan.

 

Pengelolaan kebun SAE juga membuka ruang bagi warga binaan untuk memahami bahwa kegiatan pertanian membutuhkan konsistensi. Tanaman tidak dapat menghasilkan hanya dalam satu kali pekerjaan, tetapi melalui rangkaian proses yang dilakukan secara berkelanjutan.

 

Karena itu, setiap panen menjadi momentum evaluasi sekaligus pembelajaran. Hasil 40 kilogram timun dapat menjadi catatan atas proses yang telah dilakukan sekaligus menjadi dorongan untuk menjaga keberlanjutan kegiatan pertanian di kebun SAE.

 

Melalui kegiatan tersebut, Rutan Pelaihari terus mengembangkan pembinaan yang memberikan pengalaman langsung kepada warga binaan. Dari lahan yang dimanfaatkan, tumbuh keterampilan; dari proses yang dijalani, lahir hasil yang dapat dipanen.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *