PELAIHARI, INFO_PAS — Sebuah tiang petunjuk arah kini menjadi bagian dari fasilitas penunjang di lingkungan Rutan Kelas IIB Pelaihari. Menariknya, fasilitas tersebut merupakan hasil karya bersama warga binaan dan petugas Rutan Pelaihari melalui kegiatan keterampilan dan kerja kreatif.
Pembuatan tiang petunjuk arah dilakukan dengan memanfaatkan keterampilan yang dimiliki warga binaan, mulai dari proses pengerjaan bahan, perakitan, hingga penyelesaian akhir. Petugas turut mendampingi dan memberikan arahan agar hasil pekerjaan tidak hanya memiliki nilai estetika, tetapi juga kokoh, fungsional, dan sesuai dengan kebutuhan lingkungan kantor.
Kepala Rutan Pelaihari, Eri Triyanto, mengatakan keterampilan warga binaan perlu diarahkan pada kegiatan yang menghasilkan sesuatu yang dapat dirasakan manfaatnya secara langsung.
“Ketika keterampilan warga binaan bisa menghasilkan sesuatu yang bermanfaat bagi lingkungan Rutan, di situlah nilai pembinaannya terlihat. Mereka tidak hanya belajar membuat sebuah benda, tetapi belajar bekerja dengan teliti, mengikuti proses, dan bertanggung jawab sampai hasilnya dapat digunakan,” ujar Eri.
Menurutnya, keterlibatan petugas juga menjadi bagian penting dalam proses tersebut. Pendampingan tidak hanya memastikan pekerjaan berjalan dengan baik, tetapi juga memberikan ruang bagi warga binaan untuk belajar melalui praktik langsung.
Petugas yang terlibat menjelaskan bahwa pembuatan tiang petunjuk arah menjadi pengalaman kerja yang sederhana namun memiliki nilai pembelajaran. Warga binaan dilatih untuk memahami ukuran, ketepatan pemasangan, kerapian, serta fungsi dari hasil pekerjaan yang dibuat.
Karya tersebut sekaligus menunjukkan bahwa kegiatan pembinaan kemandirian dapat diwujudkan melalui pekerjaan yang dekat dengan kebutuhan sehari-hari. Dari sebuah fasilitas sederhana, warga binaan mendapatkan pengalaman untuk mengasah keterampilan, kreativitas, kedisiplinan, dan rasa tanggung jawab.
Melalui kolaborasi petugas dan warga binaan, Rutan Pelaihari terus mendorong agar kegiatan pembinaan tidak berhenti pada proses belajar, tetapi mampu melahirkan karya nyata yang memberikan manfaat bagi lingkungan dan menjadi bekal keterampilan ketika warga binaan kembali ke masyarakat.






