Saat Pembinaan Menjadi Jalan Perubahan, Warga Binaan Rutan Pelaihari Menemukan Harapan Baru

Saat Pembinaan Menjadi Jalan Perubahan, Warga Binaan Rutan Pelaihari Menemukan Harapan Baru

PELAIHARI, INFO_PAS – Di balik tembok Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kelas IIB Pelaihari, harapan terus tumbuh melalui proses pembinaan yang konsisten. Salah satunya tampak dalam kegiatan pembinaan kepribadian melalui Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPA) yang berlangsung pada Senin (6/7) di Masjid Istiqomah Rutan Pelaihari. Program ini menjadi ruang belajar sekaligus ruang perubahan bagi warga binaan untuk memperkuat keimanan, membangun karakter, dan mempersiapkan diri kembali ke tengah masyarakat sebagai pribadi yang lebih baik.

Pembinaan TPA dilaksanakan secara rutin sebagai bagian dari upaya pembinaan kepribadian yang berfokus pada peningkatan nilai-nilai spiritual. Melalui pendampingan yang sabar dan berkelanjutan dari petugas serta pembimbing, warga binaan diajak mempelajari huruf hijaiyah, membaca Al-Qur’an, hingga memahami nilai-nilai keislaman yang dapat menjadi bekal dalam menjalani kehidupan.

Perubahan nyata terlihat dari perkembangan para warga binaan. Sebagian dari mereka yang sebelumnya belum mampu mengenal maupun membaca huruf hijaiyah, kini telah mampu membaca Al-Qur’an dengan baik dan lancar. Capaian tersebut menjadi bukti bahwa kesempatan untuk belajar dan memperbaiki diri selalu terbuka, selama ada kemauan dan ketekunan.

Kasubsi Pelayanan Tahanan Rutan Pelaihari, Galang Tresno Prakoso, mengatakan bahwa pembinaan kepribadian memiliki makna yang jauh lebih besar daripada sekadar menjalankan program rutin.

“Pembinaan kepribadian melalui TPA bukan hanya sekadar kegiatan yang mengisi waktu warga binaan selama menjalani masa pidana. Lebih dari itu, pembinaan ini menjadi wadah perubahan yang membantu mereka memperbaiki diri, memperkuat keimanan, sekaligus membangun karakter yang lebih baik. Ketika ada warga binaan yang awalnya tidak mengenal huruf hijaiyah hingga akhirnya mampu membaca Al-Qur’an dengan lancar, itulah bukti bahwa proses pembinaan berjalan dengan baik. Kami berharap bekal spiritual yang mereka peroleh dapat menjadi fondasi ketika kembali ke masyarakat sehingga mampu menjalani kehidupan yang lebih baik dan tidak mengulangi kesalahan di masa lalu,” ujarnya.

Salah seorang warga binaan, Rahmat, mengaku merasakan langsung manfaat dari pembinaan tersebut. Ia menceritakan bahwa saat pertama kali mengikuti kegiatan TPA, dirinya sama sekali belum mampu membaca maupun menulis huruf hijaiyah.

“Awalnya saya sama sekali tidak bisa membaca maupun menulis huruf hijaiyah. Bahkan saya tidak percaya kalau suatu saat saya bisa membaca Al-Qur’an. Namun berkat bimbingan petugas Rutan Pelaihari yang begitu sabar dan dukungan teman-teman sesama warga binaan, akhirnya saya bisa membaca Al-Qur’an dengan lancar. Ilmu yang saya dapatkan di sini sangat berharga dan akan saya bawa sampai nanti kembali ke masyarakat. Saya jadi yakin bahwa menuntut ilmu tidak ada batas usia maupun waktu. Kapan pun dan di mana pun kita bisa belajar, asalkan memiliki niat dan kemauan,” ungkapnya.

Kisah Rahmat menjadi gambaran bahwa pembinaan di Rutan Pelaihari bukan sekadar memberikan aktivitas bagi warga binaan, tetapi menghadirkan kesempatan kedua untuk memperbaiki diri. Melalui pendekatan yang humanis dan berkelanjutan, pembinaan keagamaan mampu menumbuhkan rasa percaya diri, membentuk akhlak, serta memperkuat bekal spiritual sebagai modal menjalani kehidupan yang lebih baik setelah bebas nanti.

Rutan Kelas IIB Pelaihari terus berkomitmen menyelenggarakan pembinaan yang berkualitas sebagai bagian dari pelaksanaan fungsi pemasyarakatan. Sejalan dengan semangat Pemasyarakatan Pasti Bermanfaat untuk Masyarakat, setiap proses pembinaan diharapkan mampu melahirkan warga binaan yang lebih beriman, berkarakter, produktif, dan siap berkontribusi positif ketika kembali menjadi bagian dari masyarakat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *