PALU – Balai Pemasyarakatan (Bapas) Kelas I Palu terus berkomitmen menghadirkan inovasi bernilai guna bagi masyarakat. Komitmen tersebut diwujudkan melalui gelaran Sosialisasi Kelompok Layanan Bimbingan Integrasi (Kelayan Binter) sekaligus Focus Group Discussion (FGD) yang berlangsung hangat di Hotel Jazz Kota Palu, Rabu (14/10/2026).
Kegiatan ini menghadirkan kolaborasi lintas sektor yang dihadiri oleh jajaran Forkopimcam dan elemen masyarakat. Turut hadir Kapolsek Palu Selatan, Danramil Palu Selatan, Camat Palu Selatan, Lurah Birobuli Selatan, Lurah Petobo, Babinsa, Bhabinkamtibmas, tokoh masyarakat, serta 10 orang Klien Bapas Kelas I Palu sebagai peserta bimbingan integrasi. Tak ketinggalan, partisipasi aktif dari Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Tadulako turut mewarnai jalannya kegiatan.
Ketua Panitia yang juga menjabat sebagai Kasi Bimbingan Klien Dewasa (BKD) Bapas Kelas I Palu, Surya Putra, menyampaikan laporannya bahwa kegiatan ini bertujuan membangun komitmen dan menyamakan persepsi antar-instansi terkait pelaksanaan program Kelayan Binter.
“Melalui program Kelayan Binter, klien pemasyarakatan diharapkan memperoleh layanan pembimbingan, pengawasan, pendampingan, pembinaan, pemberdayaan, serta dukungan penerimaan sosial dari masyarakat. Kelompok ini dibentuk agar klien tidak berjalan sendiri. Perlu dukungan penuh dari Lurah, Camat, Babinsa, Bhabinkamtibmas, hingga tokoh masyarakat,” ujar Surya Putra.
Kegiatan secara resmi dibuka oleh Kepala Bapas Kelas I Palu, M. Nur Amin, yang menekankan pentingnya keterlibatan masyarakat dalam proses pemulihan hidup para klien pemasyarakatan.
Sesi materi menghadirkan dua narasumber utama. Pemateri pertama, Kabid Pembimbingan Kemasyarakatan Kanwil Ditjenpas Sulteng, Feri Hermawan, mengupas tuntas konsep strategis Kelayan Binter sebagai model pembimbingan kolaboratif berbasis Pentahelix.
“Melalui pengembangan Kelayan Binter, Bapas Palu berharap terbangun sinergi yang lebih kuat antara pemerintah daerah, kecamatan, kelurahan, dan masyarakat. Ini adalah wujud nyata model pembimbingan kolaboratif demi suksesnya reintegrasi sosial klien,” terang Feri.
Sementara itu, Pembimbing Kemasyarakatan (PK) Muda Bapas Kelas I Palu, Rifkiansyah, memaparkan mekanisme teknis kerja kelompok layanan. Ia menjelaskan pola pengawasan partisipatif, pendampingan berbasis komunitas, hingga indikator keberhasilan reintegrasi di tingkat kelurahan.
Diskusi Interaktif dan Usulan Strategis Klien Atmosfer FGD berlangsung dinamis dan interaktif. Para Lurah, Camat, Kapolsek, hingga Danramil menyatakan komitmen siap menjadi pembimbing dan pengawas di wilayah masing-masing, sekaligus memberi ruang bagi klien untuk berkegiatan positif.
Sesi diskusi kian bermakna saat perwakilan Klien Bapas Palu menyampaikan aspirasi langsung. Mereka berharap kelurahan dapat memegang data terpadu (by name by address) klien yang berdomisili di wilayahnya. Hal ini dimaksudkan agar pihak kelurahan, Babinsa, dan Bhabinkamtibmas dapat mengoptimalkan pendampingan serta melibatkan klien secara aktif dalam program-program kelurahan, termasuk program ketahanan pangan.
Menanggapi hal tersebut, Kepala Bapas Kelas I Palu, M. Nur Amin, menegaskan bahwa keberhasilan reintegrasi berada di tangan bersama.
“Reintegrasi sosial tidak bisa hanya menjadi tugas Bapas semata. Keberhasilan 10 orang klien kami yang hadir hari ini sangat ditentukan oleh penerimaan masyarakat. Kami berharap Pak Lurah, Pak Camat, Kapolsek, Danramil, Babinsa, dan Bhabinkamtibmas bisa menjadi perpanjangan tangan kami di lapangan. Tujuan kita sama: memastikan klien tidak mengulangi tindak pidana dan dapat diterima kembali secara utuh,” tegas M. Nur Amin
Apresiasi tinggi turut diberikan oleh Kepala Kantor Wilayah Ditjenpas Sulawesi Tengah, Herman Mulawarman, atas terobosan Bapas Kelas I Palu.
“Saya sangat mengapresiasi Bapas Kelas I Palu yang menggelar Sosialisasi Kelayan Binter dan FGD dengan melibatkan jajaran Forkopimcam secara lengkap. Ini adalah model pembimbingan yang ideal dan humanis. Dengan melibatkannya OPD, Camat, Lurah, dan aparat kewilayahan, pengawasan klien berjalan optimal dan dukungan sosial kian kuat. Ini langkah nyata untuk menekan angka residivisme di Sulawesi Tengah,” ungkap Herman Mulawarman.
Melalui sinergi kokoh ini, Bapas Kelas I Palu optimistis konsep Kelayan Binter dapat segera diimplementasikan secara berkelanjutan sebagai wujud nyata Pemasyarakatan yang berdampak dan bermanfaat langsung bagi masyarakat.
Humas Bapas Kelas I Palu






