Palu – Balai Pemasyarakatan (Bapas) Kelas I Palu kembali menunjukkan komitmen nyatanya sebagai garda terdepan dalam proses pembinaan dan reintegrasi sosial Klien Pemasyarakatan. Setelah sebelumnya sukses menggelar Pelatihan Konstruksi Baja Ringan, Bapas Palu kini melanjutkan program pembinaan kemandirian secara berkelanjutan melalui Pelatihan Pertukangan Batu yang digelar pada Senin, (12/10) di Aula Bapas Kelas I Palu.
Kegiatan lanjutan ini merupakan bagian dari strategi pembinaan bertahap yang dirancang Bapas Palu untuk menciptakan tenaga konstruksi yang kompeten secara utuh. Jika pada pelatihan sebelumnya klien dibekali keterampilan pemasangan rangka atap, maka pada pelatihan kali ini klien dibekali keterampilan fundamental konstruksi bangunan.
Kegiatan diawali dengan laporan Ketua Panitia pelaksana, Kasi Bimbingan Klien Dewasa (BKD) Bapas Kelas I Palu, Surya Putra, yang menyampaikan bahwa pelatihan lanjutan ini diikuti oleh 20 orang Klien Pemasyarakatan yang telah melalui tahap seleksi dan asesmen, sebagian besar merupakan alumni pelatihan baja ringan sebelumnya.
“Ini adalah pelatihan lanjutan. Kami ingin klien kami memiliki skill yang lengkap. Kalau kemarin mereka sudah bisa pasang baja ringan, sekarang kami lengkapi dengan kemampuan pertukangan batu, mulai dari teknik pondasi, pemasangan batu bata dan batako, plesteran, pengacian, hingga teknik pembuatan adukan yang kuat dan presisi. Dengan dua keahlian ini, mereka akan menjadi tukang bangunan yang utuh dan siap kerja,” ujar Surya Putra.
Langkah ini sekaligus menjadi wujud nyata implementasi 15 Program Aksi Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan (Kemenimipas) Tahun 2026 serta dukungan terhadap program Asta Cita Presiden Republik Indonesia.
Dampak positif dari program berkelanjutan ini dirasakan langsung oleh para peserta, salah satunya Rahmat yang juga merupakan peserta pelatihan sebelumnya.
“Saya sangat berterima kasih kepada Bapas Palu. Kemarin saya sudah ikut pelatihan baja ringan, sekarang dilanjutkan lagi dengan pelatihan pertukangan batu. Jadi ilmu saya lengkap. Sebelumnya tidak bisa apa-apa, sekarang saya sudah bisa pasang baja ringan dan sekarang bisa pasang bata, plester, dan mengaci. Ini bekal lengkap untuk saya bekerja nanti membantu keluarga dan tidak mengulangi kesalahan lagi,” ujar Rahmat.
Kepala Bapas Kelas I Palu, M. Nur Amin, menegaskan bahwa pola pembinaan berkelanjutan ini sengaja dirancang agar klien benar-benar siap bersaing di dunia kerja.
“Pelatihan ini bukan kegiatan yang terputus. Ini adalah kelanjutan dari pelatihan konstruksi baja ringan kemarin. Kami ingin klien kami tidak setengah-setengah. Dengan menguasai pertukangan batu, mereka akan menjadi tenaga konstruksi yang lengkap, dari bawah sampai atap bisa dikerjakan. Ini jembatan bagi mereka untuk membangun kehidupan yang lebih stabil dan bermartabat. Harapan saya, serap ilmunya dengan sungguh-sungguh agar bisa membuka usaha jasa pertukangan sendiri nantinya,” ujar M. Nur Amin.
Program lanjutan yang progresif ini turut mendapatkan apresiasi tinggi dari Kepala Kantor Wilayah Ditjenpas Sulawesi Tengah, Herman Mulawarman, yang menilai metode pembinaan berjenjang ini sangat efektif.
“Saya sangat mengapresiasi inovasi Bapas Kelas I Palu. Pola pelatihan yang berkelanjutan dari baja ringan dilanjutkan ke pertukangan batu ini sangat cerdas dan tepat sasaran. Ini bukan sekadar pelatihan, ini adalah pencetakan tenaga kerja konstruksi yang kompeten dan utuh. Ini implementasi nyata dari Asta Cita dan Program Aksi Kemenimipas. Dengan dua skill ini, klien kita akan jauh lebih mandiri, berdaya saing tinggi, dan yang paling penting, angka residivisme pasti akan turun karena mereka sudah punya masa depan yang jelas. Lanjutkan program berjenjang seperti ini,” Ungkap Herman.
Melalui dua rangkaian pelatihan terintegrasi ini, Bapas Kelas I Palu berharap 20 Klien Pemasyarakatan dapat bertransformasi menjadi tenaga tukang bangunan yang terampil secara menyeluruh, mandiri, serta siap berkontribusi aktif dalam pembangunan masyarakat di Sulawesi Tengah.
Humas Bapas Kelas I Palu






